Penyesalan Manchester United: Lima Pemain yang Seharusnya Tidak Pernah Dilepas
Kabar Mangupura- Manchester United (MU) bukan hanya sekadar klub sepak bola. Tim berjuluk The Red Devils ini memiliki sejarah panjang, segudang prestasi, dan identik dengan deretan pemain kelas dunia. Dari era Sir Matt Busby hingga Sir Alex Ferguson, Old Trafford menjadi rumah bagi bintang-bintang yang mengukir cerita besar di panggung sepak bola.
Namun, di balik keberhasilan MU menemukan pemain hebat, klub ini juga memiliki catatan pahit: keputusan melepas pemain yang kemudian bersinar di klub lain. Beberapa nama yang pergi justru tampil gemilang, membuat fans bertanya-tanya—mengapa Setan Merah begitu cepat melepas mereka?
Salah satu contoh paling ikonik terjadi pada 2009, saat Cristiano Ronaldo hijrah ke Real Madrid dengan rekor transfer dunia. MU memang mendapat dana besar, tetapi kehilangan sang megabintang membawa dampak serius pada performa tim. Dan ternyata, Ronaldo bukanlah satu-satunya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2740518/original/044275300_1551397416-000_1BS4UG.jpg)
Berikut adalah lima pemain yang seharusnya tidak pernah dilepas oleh Manchester United:
Baca Juga : Di Tengah Kemelut Politik, Koalisi Pemerintah Tetap Solid
1. Ander Herrera
Didatangkan dari Athletic Bilbao pada musim 2014, Ander Herrera dikenal sebagai gelandang pekerja keras dengan visi permainan tajam. Di bawah arahan Louis van Gaal, ia menjadi jenderal lapangan tengah dengan kemampuan box-to-box yang komplet: fisik prima, teknik mumpuni, serta umpan akurat.
Namun, keputusan manajemen MU tidak memperpanjang kontraknya membuat Herrera hijrah ke Paris Saint-Germain (PSG) pada 2019. Di klub barunya, ia langsung menjadi bagian penting dalam dominasi PSG di Ligue 1. Bahkan, kedatangan Lionel Messi ke Paris semakin memperkuat posisi Herrera sebagai salah satu gelandang yang beruntung bermain bersama para bintang.
2. Memphis Depay
Ketika Cristiano Ronaldo meninggalkan MU, publik berharap hadirnya penerus yang mampu melanjutkan kejayaan nomor punggung 7. Nama itu adalah Memphis Depay.
Depay tiba dengan status bintang muda PSV Eindhoven, terkenal dengan kecepatan, dribel memikat, serta insting gol yang tajam. Sayangnya, harapan besar itu berubah jadi tekanan. Depay gagal tampil konsisten di Old Trafford dan akhirnya dilepas ke Lyon.
Ironisnya, bersama Lyon, Depay berkembang pesat hingga menjadi salah satu penyerang paling berbahaya di Ligue 1. Kariernya kemudian membawanya ke Barcelona, di mana ia dipercaya mengisi ruang yang ditinggalkan Lionel Messi.
3. Diego Forlán
Kisah Diego Forlán menjadi salah satu penyesalan terbesar MU. Direkrut dari Independiente pada 2002, Forlán sebenarnya punya reputasi bagus di Argentina. Namun di Old Trafford, ia kesulitan beradaptasi. Dalam 64 penampilan, ia hanya mencetak 10 gol.
MU akhirnya menjualnya ke Villarreal dengan harga murah. Di Spanyol, segalanya berubah. Forlán menjelma sebagai predator kotak penalti. Bersama Villarreal dan kemudian Atletico Madrid, ia mencetak total 127 gol dalam 240 pertandingan La Liga. Forlán bahkan menjadi salah satu striker paling ditakuti di Eropa, jauh lebih tajam dibanding saat berseragam Setan Merah.
4. Gerard Piqué
Bek Spanyol ini bergabung dengan akademi MU pada 2004. Dengan postur tinggi, kokoh, dan kemampuan membaca permainan, Piqué seharusnya bisa jadi investasi jangka panjang. Namun, persaingan ketat di lini belakang MU—dengan duet legendaris Nemanja Vidić dan Rio Ferdinand—membuatnya jarang mendapat kesempatan.
Pada 2008, MU melepas Piqué ke Barcelona. Keputusan ini kemudian dianggap blunder besar. Bersama Blaugrana, Piqué tumbuh menjadi salah satu bek terbaik dunia. Ia menjadi bagian penting era kejayaan Barcelona, memenangkan Liga Champions, La Liga, hingga Piala Dunia dan Euro bersama Timnas Spanyol.
5. Jaap Stam
Nama terakhir ini adalah legenda yang dilepas terlalu cepat. Jaap Stam, bek asal Belanda, dikenal sebagai tembok tangguh MU pada akhir 1990-an. Kuat dalam duel udara, cepat membaca serangan lawan, dan bermental baja, Stam menjadi bagian penting dari treble winner 1999.
Namun pada 2001, cedera parah membuat Sir Alex Ferguson meragukan masa depannya. MU kemudian menjual Stam ke Lazio. Banyak yang menganggap keputusan ini tergesa-gesa. Faktanya, Stam tetap tampil garang bersama Lazio, kemudian AC Milan, dan Ajax. Ferguson sendiri di kemudian hari mengakui bahwa melepas Stam adalah salah satu kesalahan terbesarnya.
Kesimpulan
Manchester United memang selalu punya cara menemukan pemain besar, tetapi tidak jarang juga kehilangan bintang karena keputusan yang terlalu cepat atau salah perhitungan. Dari Herrera hingga Stam, kisah mereka menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola, kesabaran dan manajemen yang tepat bisa mengubah pemain biasa menjadi legenda.
Setan Merah boleh menyesal, tetapi para pemain ini justru membuktikan bahwa karier gemilang bisa tetap bersinar meski jauh dari Old Trafford.















